Memaknai Ujian - SEMANGAT
Headlines News :

Memaknai Ujian

Written By Bungjamil Jamil on Friday, February 19, 2010 | 11:32 PM

Sobat, lazimnya ujian, tentu ada criteria penilaian. Aturan ditetapkan untuk ditaati, bukan untuk dilanggar. Jadikan motivasi untuk berprestasi. Coba pikirkan, bila semua berlaku semau gue, tanpa batasan, ukuran dan penilaian, sulit untuk menentukan. Justru orang yang memahami keterbatasan itulah orang yang cerdas. Berprestasi di tengah keterbatasa itulah pahlawan. Jadi Batas itu Penting.

"Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: Kami telah beriman, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta. Ataukah orang-orang yang mengerjakan kejahatan itu mengira bahwa mereka akan luput dari (azab) Kami? Amatlah buruk apa yang mereka tetapkan itu." [QS. Al Ankabut :2-4]

Mari kita fahami kriteria Ujian:

1. Ujian Harus Sulit.
Kalau mudah atau dimudah-mudahkan, tentu tidak menantang. Tidak asyik dan tidak beda, antara yang lulus dan yang lolos, yang lurus dan yang bolos, yang serius dan yang ceplas-ceplos, yang tulus dan yang melengos, yang belajar terus dan yang bikin chaos. "Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan." Ujian itu proses seleksi. Kesulitan merupakan tantangan, seleksi siapa yang paling layak.

2. Ujian bukan Mustahil.
Semua ujian pasti bisa ditempuh. Bisa diselesaikan, asal sungguh-sungguh. Bila ujian itu mustahil tentu tidak berguna, tidak bisa untuk membedakan antara prestasi dan frustasi. "Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya" [QS.2:286]

Ujian adalah pembangkit hasrat dan semangat untuk membentuk manusia menjadi pribadi utuh dan positif. Yakinlah, kita pasti sanggup menempuh ujian. Tidak menyerah sebelum berdarah-darah, mengerahkan kemampuan maksimal, be powerful of hero. Kuncinya, bersihkan hati agar ringan hadapi ujian. "sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya." [QS.91:8-9]

3. Ujian harus seimbang.
Sulit bagi pecundang tapi mudah bagi pemenang. " Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan Kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik." [QS.29:69]
Ujian itu pasti setara dengan kemampuan kita.

4. Tak ada kemenangan tanpa ujian.
Menurut para pendaki, bukan dipuncak gunung itu yang nikmat tapi perjalanan mendaki itulah yang paling nikmat. Menurut para pengantin baru, bukan malam pertama yang nikmat, namun penantian "puasa syahwat" itulah yang membuat malam pertama lebih nikmat. Ehmmmm. Find, barokah finnikah!

Seorang pemuda bertanya kepada Imam Syafi'i. "Ya Abu Abdillah, mana yang lebih baik antara seorang yang diberi kemenangan atau yang mendapat ujian dari Allah?" Dengan bijak, Imam Syafi'fi menjawab, " Kemenangan akan terwujud setelah seseorang mendapat ujian. Allah ta'ala telah menguji Nabi Nuh, Ibrahim, Musa, Isa dan Muhammad saw. Ketika mereka bersabar atas ujian yang diberikan maka Allah kokohkan kedudukan mereka. Jangan seorangpun diantara kalian yang mengira terlepas dari rasa sakit."

Semoga bisa memaknai ulang ujian, musibah atau persoalan yang suatu saat akan memnghampiri kita sebagai suatu peluang atau motivasi.


Share this article :

1 comment :

Terima kasih sudah membaca tulisan ini.

Saya akan sangat bergembira apabila anda berkenaan memberikan sedikit catatan komentar terhadap ide-ide yang anda dapatkan dari tilisan ini.

Apapun gagasan anda amat saya hargai dan akan saya kunjungi balik ke blog anda.

Terima kasih & Tetap SEMANGAT!!

VIDEO INSPIRASI

Template Information

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. SEMANGAT - All Rights Reserved
Original Design by Creating Website Modified by Adiknya